Thiyarah Menafikan Kesempurnaan Tauhid
admrozi
Author
Pernahkah mendengar mitos jika seseorang mendengar suara burung gagak itu pertanda akan ada berita kematian entah dari keluarganya atau dari orang terdekatnya. Atau saat mendengar kokok ayam di awal malam petanda ada janda atau wanita belum menikah hamil.
Atau meyakini bahwa angka tiga belas sebagai angka sial hingga menghilangkan angka tersebut di maskapai penerbangan, di hotel-hotel ataupun penomoran rumah. Dan masih banyak lagi yang beranggapan sesuatu sial yang sebenarnya tidak ada landasan syariatnya di dalam islam.
Menurut syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin (wafat tahun 1421 H rahimahullah), “Tathayyur adalah menganggap sial apa yang dilihat, didengar atau yang diketahui seperti yang dilihat yaitu, melihat sesuatu yang menakutkan. Yang didengar seperti mendengar burung gagak atau yang diketahui seperti melihat tanggal, angka, atau bilangan tertentu. Tathayyur berarti menafikan (meniadakan) tauhid dari dua segi.
Orang yang ber-tathayyur tidak memiliki rasa tawakal kepada Allah dan senantiasa bergantung kepada selain Allah.
Ia bergantung kepada sesuatu yang tidak ada hakekatnya bahkan ia bergantung pada sesuatu yang termasuk takhayyul dan keragu-raguan (lihat al-Qaulul Mufiid’alaa Kitaab at-Tauhiid I/559-560)
Tathayyur bisa merusak tawakal kepada Allah ta’ala dan perbuatan tersebut mengindikasikan rendahnya tauhid pelakunya. Pahadal tad ada bukti ilmiah bahwa tanda-tanda yang diyakini dalam tathayyur bisa mendatangkan malapetaka atau pun keberuntungan.
Kejadian buruk yang menimpa manusia pada hakekatnya merupakan takdir Allah Ta’ala. Manusia hendaknya menempuh sebab-sebab syar’i dan kauni agar terhindar dari malapetaka dan mendapatkan keselamatan hidup mukmin bertakwa harus menyandarkan hidupnya pada Allah Ta’ala bukan pada berbagai mitos yang menyesatkan, bisikan-bisikan setan dan berbagai praduga yang menyalahi petunjuk Islam.
Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda :
الطيارة شرك الطيارة شرك الطيارة شرك وما منّا إلا ولكنّ الله يذهبه بالتوكل
“Thiyarah itu syirik, Thiyarah itu syirik, Thiyarah itu syirik, dan setiap orang pasti (pernah terlintas dalam hatinya sesuatu dari hal ini) hanya saja Allah menghilangkannya dengan tawakal kepada-Nya” (HR al-Bukhari dalam al-Adabul Mufrad no.909, Abu Dawud no. 3910, dishahihkan Al Albani dalam Silsilatul Ahaadits Ash-Shahihah no. 429)
Hendaklah seorang mukmin sejati senantiasa bergantung pada Allah Ta’ala tidak terpengaruh berbagai tathayyur yang berkembang di tengah masyarakat dengan menguatkan keimanan pada takdir Allah Ta’ala. Dengan demikian hati akan tenang apapun yang terjadi.
Seorang muslim harus ekstra berhati-hati agar tidak terjerumus pada tathayyur yang akan menodai kebersihan iman.
