Sabar Menghadapi Musibah
admrozi
Author
Seorang muslim hendaknya sabar dalam menghadapi segala musibah, mengimani dan meyakini bahwa semua musibah yang dialaminya tak lepas dari takdir Allah Ta’ala.
Musibah yang menimpa hamba-hambanya yang beriman hendaklah disikapi dengan bijak dan bersabar dalam menghadapinya seraya meneguhkan hati agar Allah memberi pertolongan dengan kesabaran insyallah segala musibah akan berakhir bahagia di dunia dan akhirat.
Hakekat sabar
Sabar secara etimologi adalah al-habsu, menahan. Maka makna sabar adalah menahan diri dari berputus ada dan menahan lisan dari keluh kesah, serta menahan anggota badan dari perbuatan yang dilarang Allah ‘Azza wa Jalla.
Imam Sa’id bin Jubair rahimahullah berkata. “ Kesabaran itu adalah pegakuan seorang hamba kepada Allah ‘Azza wa jalla atas musibah yang menimpa dirinya (Bahwa itu semua dari sisi-Nya) dan pengharapannya terhadap balasan pahala di sisi-Nya. Sungguh kadang seorang hambah bersedih, akan tetapi dia berusaha menahan dri, tidak terlihat darinya kecuali kesabaran”
“ Tak seorangpun mampu menghindari rasa sakit dan epedihan hati. Karena secara naluri, manusia cenderung merasakannya. Tak mungkin menghilangkan hal yang bersifat naluriah. Namun yang harus dilakukan seorang hamba, seperti saat terjadinya musibah, yaitu mungkin dari hal-hal yang bisa dicegah, seperti bersedih secara berlebihan. Karena bila itu dilakukan, seseorang dapat dikategorikan keluar dari statusnya sebagai orang yang tabah” (kata Imam Al-Qurthubi rahimahullah)
Musibah terbesar
Ketika tertimpa musibah, renungkanlah karena banyak hamba Allah Ta’ala yang juga mengalaminya. Ujian manusia berbeda-beda, namun dengan pasrah, sabar, dan tawakkal, yakinlah setelah kesulitan aka nada kemudahan bi idznillah.
Banyak haidts yang mulia yang bisa menumbuhkan rasa semangat kita untuk menjauhi putus ada dan tetap tabah tatkala musibah mendatangi kita. Sebuah musibah terbesar yang membuka iman bahwa meninggalnya Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam adalah musibah terbesar.
Beliau shallallahu’alaihi wa sallam bersabda yang maknanya : “kaum muslimin sekalian! Siapapun diantara umat manusia ini, atau dari kalangan mukminin secara khusus yang tertimpa musibah hendaknya ia merasa berntung karena belum merasakan musibah kematian. Ia baru merasakan musibah-musibah lainnya. Karena tak seorangpun dari umatku yang akan tertimpa musibah yang lebih besar dari musibah kematianku ini” (HR.Ibnu Majah no. 1599)
Semoga Allah Ta’a;a memberi taufik.
