Kritis Saat Menerima Informasi Bisa Tangkal Penyebaran Hoax
admrozi
Author
Aghil – Era digital memudahkan kita untuk mendapatkan informasi secara cepat. Namun, terkadang kecepatan ini tak berbanding dengan ketepatan dari sebuah informasi.
Tercatat bahwa kian hari, kabar hoax semakin merajalela di masyarakat. Cepatnya penyebaran ini akibat penggunaan media sosial dan aplikasi percakapan yang masif seiring pertumbuhan jaringan internet.
Berita bohong atau hoax ini tak hanya menargetkan suatu bidang saja. Bidang politik dan ekonomi menjadi bidang yang menerima hoax paling banyak belakangan ini.
Ironisnya, berita hoaks ini hanya bertujuan untuk mengacaukan kehidupan bermasyarakat.
"Informasi yang beredar bisa menjadi ‘makanan’ yang menyehatkan tapi bisa juga menjadi ‘racun’ yang mengganggu kehidupan kita. Informasi bisa seperti pandemi kalau tidak berhati-hati, bisa menjadi tsunami informasi," ujar Direktur Jenderal Informasi dan Komunikasi Publik Kementerian Komunikasi dan Informatika Widodo Muktiyo seperti dilansir dari laman resmi Kominfo.
"Kehidupan kita saat ini memang tidak bisa lepas dari smartphones atau media sosial. Namun kita bisa berhati-hati dan kritis dalam menerima informasi yang setiap hari beredar untuk meredam hoaks," katanya menambahkan.
Widodo menambahkan, bahwa sejak awal pandemi virus Corona saja terdapat lebih dari 1.220 berita hoax yang beredar di masyarakat. Hal ini tentu memicu kepanikan di masyarakat.
"Kalau mendapat informasi yang diduga sensasional, sumbernya meragukan, bahasanya provokatif, sebaiknya kalau mau dihapus ya dihapus saja. Kalau ingin melihat silakan dicek dulu kebenarannya melalui cek fakta," ujarnya menegaskan.
